Jumat, 20 Mei 2011

HIJRAH KE MADINAH AL-MUNAWWARAH [1]


A.     Pendahuluan
Orang pertama yang hijrah ke Madinah diantara para sahabat Rasulallah SAW, adalah Abu Salamah bin Abdul As’ad. Dia hijrah ke Madinah setahun sebelum dilangsungkannya Baitul Aqobah kedua. Setelah Abu Salamah adalah Amir bin Rabi’ah dan istrinya Laila binti Abi Hatsmah, lalu disusul oleh Abdullah bin Jahsy yang membawa keluarganya dan saudara laki-lakinya.[2] Setelah itu disusul oleh Umar bin Khathab dan Ayyas bin Abi Rabi’ah Al-Makhzumi, kemudian di susul oleh kaum Muhajirin yang lain. 

B.     Hijrah ke Madinah
Meski para sahabatnya sudah hijrah, namun Rasuallah SAW masih di Mekkah menunggu izin untuk hijrah, dan tak seorang pun diantara  kaum Muhajirin yang masih tinggal bersamanya di Mekkah kecuali orang-orang yang ditawan dan disiksa, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar bin Abi Quhafah Ash-Shiddiq. Abu Bakar berkali-kali minta izin kepada Rasulallah SAW untuk hijrah, sehingga Rasulallah SAW berkata kepadanya: “Jangan tergesa-gesa, semoga Allah membuatkan teman untukmu”.[3]
Akhirnnya Rasulallah SAW menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah memberi izin kepada beliau untuk hijrah ke Madinah. Abu Bakar berkata: “Akukah yang akan menemanimu, wahai Rasulallah ?” “ya, kamu yang akan menemaniku “ jawab Rasulallah. Abu Bakar sangat bahagia dan berkata : “wahai Rasulallah SAW, aku telah lama membeli binatang tunggangan ini, dan keduanya aku persiapkan buat keperluan  hari ini.”[4] Rasulallah pulang kerumah tepat pada waktu yang telah ditentukan, datanglah orang Quraisy mengepung rumah Nabi.
Rasulallah berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “wahai Ali, tidurlah di tempat tidurku, dan selimutilah seluruh tubuhmu hingga tidak satu pun dari bagian tubuhmu yang kelihatan dengan selimut asal Hadrami ini. Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan sesuatu dari mereka yang tidak kamu sukai”[5]. Ali benar-benar melakukan seperti yang diminta oleh Rasulallah. Nabi langsung pergi menemui Abu Bakar, Keduanya menuju gua Tsur yang sebelumnya telah mereka tentukan sebagai tempat untuk bersembunyi.
Tiga hari lamanya mereka bersembunyi dan keadaan sudah dirasakan aman. Maka Nabi dan Abu Bakar (dengan petunjuk jalan Abdullah bin Arqath) barulah meneruskan perjalanan menyusur pantai laut merah.
Tidak pernah terlintas dalam benak Rasulallah SAW bahwa sang penunjuk jalan akan membawa mereka melalui jalan yang tidak biasa dilalui kebanyakan orang adapun kaum kafir Quraisy merasa kacau, kalut dan marah karena Rasulallah lepas dari genggaman mereka, segerombolan yang dipimpin Abu Jahal mendatangi Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata “wahai putri Abu Bakar , mana ayahmu?” “ Demi Allah, aku tidak tahu, dimana ayahku berada”[6] jawab Asma. Abu Jahal mengangkat tangannya lalu menampar pipi Asma, sampai anting-anting Asma terlepas.
Tibalah beliau di Quba, sebuah tempat yang kira-kira sepuluh kilometer jauhnya dari Yatsrib. Rasulallah mendirikan masjid, yaitu masjid Quba.
Dan terkait dengan masjid ini Allah SWT berfirman yang Artinya:
    
“Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat  di dalamnya”[7]
 
            Setelah empat hari beristirahat di Quba, mereka langsung melanjutkan perjalanan. Setelah memasuki kota Yatsrib, dengan mendapatkan sambutan yang hangat, penuh kerinduan dan rasa hormat dari penduduknya. Tidak pernah ada hari yang penuh dengan kebahagiaan seperti itu. “selamat datang wahai Nabi Allah!”  “selamat datang wahai Nabi Allah![8] begitulah luapan kebanggaan mereka. Banyak diantara mereka yang menawarkan tempat tinggal untuk Rasulallah, namun Rasulallah berkata “Biarkan unta ini berjalan, karena ini berada di bawah perintah Allah”.[9]
Qashwa’[10] tampaknya memilih suatu tempat diantara mereka dan Qashwa merapatkan dadanya ketanah Rasulallah turun dan berkata, “inilah, insya Allah tempat kediamanku”,[11] tanah itu ternyata milik dua orang anak yatim piatu, Sahl dan Suhayl.
Pada  hari itu juga, Nabi mengadakan shalat jum’at yang pertama kali dalam sejarah Islam. Sejak ini Yatsrib berubah namanya menjadi Madinatun Nabiy artinya: “kota Nabi[12] selanjutnya disebut  Madinah. Setelah Rasulallah SAW, menginjakan kedua kakinya di Madinah al-Munawwaroh, maka beliau segera mewujudkan bangunan Negara Islam di Madinah dan beliau mewajibkan setiap orang Islam dimanapun berada agar segera hijrah, kecuali orang yang  berhalangan. Agar kaum muslimin semuanya dalam satu wilayah dan dalam perlindungan Negara Islam, sehingga mereka tidak tertindas. Allah berfirman yang Artinya:

“Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah”.[13]
 
C. Penutup
Berdasarkan hal itu, maka mereka berturut-turut hijrah kepada Rasulallah SAW. Sehingga Ibnu Ishak berkata : “Tidak satu pun dari mereka yang masih tinggal di Mekkah, kecuali mereka yang disiksa dan dipenjara.”[14]
            Dengan berpindahnya Rasulallah SAW, dari Mekkah ini berakhrlah periode pertama sejarah risalahnya, tidak kurang 13 tahun lamanya berjuang antara hidup dan mati menegakkan agama Allah diantara masyarakat Mekkah, dituangkan dalam firman Allah: yang Artinya:
       
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.”[15]



[1] Disampaikan pada diskusi mata kuliah Sejarah Peradaban Islam, tanggal 31 maret 2011 oleh : Muh Rudi A, Nurhayati, Noni Prihatini, Ummu Habibah.
[2] Abdullah bin Jahsy adalah Abu Ahmad. Dia seorang laki-laki yang buta, seorang ahli syair dan seorang yang cerdas, dia biasa naik turun mekah tanpa ada yang menuntutnya.
[3] Prof. DR. Rawwas Qol’ahji, sirah Nabawi_sisi Politisi Perjuangan Rasulallah SAW (penerbit AlAzhar Press, Bogor, 2010). h.142.
[4] Prof. DR. Rawwas Qol’ahji, sirah Nabawi_sisi Politisi Perjuangan Rasulallah SAW. h. 145
[5] Prof. DR. Rawwas Qol’ahji, sirah Nabawi_sisi Politisi Perjuangan Rasulallah SAW.
[6] Prof. DR. Rawwas Qol’ahji, sirah Nabawi_sisi Politisi Perjuangan Rasulallah SAW. h. 149.
[7] Q.S at-Taubah[9]:108.
[8] Martin Lings, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, (penerbit serambi, Jakarta, 1991). h. 188.
[9] Martin Lings, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik. h. 189.
[10] Sebuah nama unta milik Nabi ketika berhijrah.
[11] Martin Lings, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.
[12] Al-Qur’an dan Terjemahannya h.64.
[13] Q.S Al-Anfal [8]:72.
[14] Q.S Al-Anfal [8].h. 156.
[15] Q.S. Al-Anfal [8]:30.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar